Depok – Suara Kota |
Gelaran Festival Perahu Naga kembali diselenggarakan sebagai upaya optimalisasi potensi setu sebagai sumber daya alam yang ada di Kota Depok.
Kegiatan yang telah digagas sejak tahun 2015 ini bertujuan untuk menggabungkan potensi olahraga, penguatan ekonomi lokal melalui UMKM, hingga pelestarian lingkungan hidup secara berkelanjutan.
Festival tahun ini diikuti oleh 46 peserta yang berasal dari berbagai daerah, mencakup atlet lokal, nasional, internasional, hingga kontingen dari unsur TNI seperti Kodim dan Yontep.
Selain menjadi sarana kompetisi, ajang ini dirancang sebagai pendekatan kemasyarakatan dan wadah pelestarian budaya lokal.
Wakil Ketua DPRD Kota Depok dari Fraksi Gerindra, Yeti Wulandari mengatakan pandangannya terkait keterlibatan berbagai pihak serta multiplier effect dari pelaksanaan festival ini.
”Dengan Festival Perahu Naga ini, saya selalu ingin atlet-atlet dayung, baik yang profesional maupun masyarakat, untuk bisa bergabung supaya mereka bisa mulai mencintai kekayaan Kota Depok, yaitu sumber daya alam Kota Depok, setu. Yang kedua, kami juga menggandeng para pelaku UMKM supaya UMKM, baik yang masyarakat yang ada sekitar setu maupun UMKM yang sudah dibina di kecamatan, mereka bisa ikut berkontribusi sehingga roda perputaran ekonomi juga terjadi pada hari ini,” kata Yeti saat dilokasi Festival Perahu Naga di Setu Rawa Kalong, Minggu (9/8/2026).
Yeti yang duduk sebagai Dewan Pembina Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) Kota Depok ini menambahkan, keterlibatan warga lokal dan partisipasi peserta luar daerah menjadi sarana mempererat hubungan antarwilayah sekaligus ruang apresiasi seni.
“Yang ketiga, saya menggandeng masyarakat sekitar karena banyak atlet-atlet kita yang dari luar Kota Depok, dari Bandung, atlet-atlet yang dari Bekasi, Karawang, dan lain-lainnya, Kabupaten Bandung, dan sebagainya singgahnya di rumah penduduk. Jadi konsep pendekatan wilayah ini semakin erat,” terangnya.
“Saya juga menggandeng pelaku-pelaku seni yang ada sekitar setu supaya mereka juga bisa menunjukkan bahwa warga di sekitar setu itu apabila nanti kita berdayakan, bisa menjadi salah satu kontribusi di dalam hal kesenian yang nantinya bisa menjadi ajang budaya Kota Depok di setu-setu,” lanjutnya.
Lebih jauh, sinergi bersama kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dan unsur RT/RW setempat diharapkan mampu menaikkan kelas ajang tahunan ini ke tingkat yang lebih tinggi.
“Yang berikutnya adalah menggandeng Pokdarwis dan tokoh-tokoh RT, RW, serta masyarakat dan organisasi masyarakat yang ada di wilayah atau sekitar setu supaya mereka bisa sama-sama menjaga bahwa event ini adalah event kita bersama, yang nantinya event ini apabila terus kita jaga, kita tingkatkan, Insya Allah nantinya ini akan menjadi perhatian bukan hanya di tingkat Kota Depok, tapi menjadi perhatian di skala nasional. 46 peserta dari berbagai macam daerah dan dari juga atlet-atlet nasional maupun internasional. Hadiahnya uang pembinaan,” tegasnya.
Mengenai lokasi acara yang berpindah-pindah, Yeti menjelaskan bahwa strategi ini merupakan dorongan langsung untuk menggiatkan aksi kebersihan setu sebelum kegiatan dimulai.
“Saya mulai dari tahun 2015 pertama kali saya laksanakan kegiatan ini, saya melaksanakan di Setu Rawa Besar. Kenapa saya pindah—ingin selalu berpindah-pindah setu? Saya ingin bahwa dengan adanya kegiatan ini pastinya kita kan akan membersihkan setu dulu. Enggak mungkin event Perahu Naga ini bisa dilaksanakan apabila setu dalam keadaan sedimen tinggi dan penuh sampah. Oleh karena itu, kami mengajak seluruh elemen yang ada sekitar setu, sebelum melaksanakan kegiatan, ayo sama-sama kita bersih-bersih setu. Tujuannya apa? Tujuannya supaya nanti ekosistem dan sumber daya air ini benar-benar terjaga,” ungkapnya.
Perbedaan penyelenggaraan tahun ini juga terlihat dari makin beragamnya unsur masyarakat dan institusi yang berpartisipasi.
“Selain lokasi adalah pada saat ini juga ada kontingen-kontingen dari Kodim, dari Yontep, dari yang lain-lainnya itu bergabung di sini. Jadi bukan hanya pure atlet-atlet saja, tetapi dari masyarakat yang banyak juga bergabung. Makanya saya ingin menunjukkan bahwa apabila kita bisa pertama, menjaga setu yang merupakan sumber daya alam Kota Depok satu-satunya—kita enggak punya sumber daya alam yang lain, kita cuma punya sumber daya kita hanya setu—ini bisa kita jaga, kebersihan kita jaga, semuanya ini akan menjadi salah satu, bukan salah satu, ini akan menjadi pertama, ekowisata. Yang kedua, menjadi sarana olahraga. Yang ketiga, menjadi sarana budaya. Yang keempat, menjadi sarana pelaku UMKM. Yang kelima, perputaran ekonomi akan terjadi. Seperti itu,” urai Yeti.
Melihat potensi puluhan setu di Kota Depok, kerja sama seluruh lapisan masyarakat menjadi kunci utama dalam memelihara fungsi lingkungan.
“Ya, makanya dengan jumlah sumber daya alam kita, setu yang lumayan ini jumlahnya tidak terhitung—maksudnya lebih dari 23, ya—apabila bisa kita jaga kebersihannyalah, masyarakat sama-sama kita jaga, bukan hanya melulu tugas dari pemerintah daerah, tetapi tugas kita bersama untuk menjaga setu, kita bisa buktikan pada hari ini ternyata setu bisa menjadi potensi yang luar biasa,” terangnya.
Dalam upaya menjaga ekosistem perairan, program tebar bibit ikan proteksi juga telah direalisasikan di beberapa lokasi.
Saya dan Pak Wakil Walikota, Pak Candra, kami sudah beberapa kali melakukan bersih-bersih setu. Jadi terakhir kami melakukan bersih-bersih di Setu Gadog dan di situ kami juga—di situ ada sumber mata air dan kami juga memberikan bibit ikan dewa. Kalau teman-teman tahu, ikan dewa itu ikan yang ada di sumber mata air di Kabupaten Kuningan dan Majalengka. Ikan ini semuanya ikan yang sangat dilindungi, kami taruh di situ. Gunanya apa? Gunanya masyarakat untuk sama-sama menjaga. Bahwa nantinya apabila ikan dewa ini bisa kita pelihara dengan baik, kita bisa jaga setu, kita bisa apa, selalu kebersihannya kita jaga, nantinya Insya Allah menjadi destinasi wisata karena pastinya akan banyak masyarakat yang datang ke situ untuk melihat. Seperti itu, kita bisa berkaca pada daerah lain,” pungkasnya.
(SK/Martchel)














