Depok – Suara Kota |
Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang ditetapkan pada 2 Mei harusnya didorong untuk menjadi titik balik transformasi pendidikan supaya menjadi lebih baik. Penyediaan sarana prasarana menjadi dasar yang penting dalam menunjang kualitas pembelajaran bagi para siswa di sekolah.
Namun ironi yang terjadi pada siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 3 Depok. Siswanya terpaksa empat bulan belajar dilantai karena tidak ada meja dan kursi.
Pengamat pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Itje Chodidjah mengatakan, keterlaluan selevel sekolah negeri yang didanai Pemerintah Kota Depok tapi tidak tersedia meja dan kursi bagi para siswa untuk Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).
“Ini sebenarnya kebangetan ya kalau sekolah negeri yang dibiayai oleh pemerintah (terutama Pemda) tidak mendeteksi sampai pada situasi seperti ini. Ada pengawas sekolah yang mestinya mendeteksi sejak awal, tidak menunggu sampai keadaan memburuk. Ada akreditasi, ada rapor pendidikan. Mestinya semua informasi yang ada tersebut dibaca cermat dan ditindaklanjuti sesegera mungkin, tidak menunggu parah,” kata Itje pada Suara Kota, Sabtu (2/5/2026).
Wanita yang pernah menjabat Ketua Komisi Nasional (Komnas) Indonesia untuk UNESCO ini mengingatkan, ada dampak yang terbilang cukup besar bagi siswa SMPN 3 Depok yang belajar dilantai tanpa menggunakan meja dan kursi.
“Secara fisik pasti besar akibatnya terhadap posisi tubuh anak, rentan kelelahan. Namun yang lebih besar adalah dapak secara psikologis. Konsentrasi anak terganggu dan anak menyaksikan rendahnya penyelenggara pendidikan baik sekolah maupun Pemda sebagai contoh moral kerja bagi anak-anak yang sedang bertumbuh,” terangnya.
Itje yang telah berkarya dalam dunia pendidikan selama 43 tahun itu menekankan, proses panjang dan berbelitnya birokrasi dalam penggadaan meja dan kursi bagi siswa SMPN 3 Depok, akan menjadi peristiwa yang buruk bagi dunia pendidikan.
“Ini membutuhkan refleksi nasional, utamanya pendidikan karena peristiwa negatif semacam ini akan membekas luka batinnya. Banyak peristiwa buruk yang menimpa bangsa ini yang diakibatkan oleh urusan birokrasi,” paparnya.
Persoalan di SMPN 3 Depok bukan hanya sekedar tidak ada meja dan kursi saja, namun ruangan kelas yang dirasa panas karena tidak tersedia juga pendingin ruangan atau kipas angin mengakibatkan para siswa tidak merasa nyaman dalam mengikuti pembelajaran di sekolah.
“Lha kalau bangku aja lalai apalagi perangkat yang tidak sevital meja kursi. Mari tidak mendzalimi masyarakat sebagai pembayar pajak. Ini masalah hidupnya anak-anak bukan masalah birokrasi,” tegas perempuan yang sempat duduk sebagai Anggota Akreditasi Nasional.
Sementara, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Depok, Wahid Suryono tidak menampik tentang siswa SMPN 3 Depok yang belajar dilantai karena tidak adanya meja dan kursi.

Pria yang pernah menjabat Kepala Badan Keuangan Daerah Kota Depok ini menjelaskan, pengadaan meja dan kursi untuk siswa SMPN 3 Depok sedang dalam proses.
“Saat ini sedang berproses pengadaannya. Insya Allah semua akan tuntas diselesaikan,” ucap Wahid, Sabtu (2/5/2026).
Wahid juga menuturkan, terealisasinya pengadaan meja dan kursi bagi SMPN 3 Depok akan terlaksana pada tahun ajaran baru.
“Iya, sedang berproses. Semoga tahun ajaran baru nanti semuanya sudah lengkap,” pungkasnya.
(SK/Martchel)














