Depok – Suara Kota |
Kota Depok rencananya akan kembali memberlakukan program Universal Health Coverage (UHC) bagi masyarakat yang membutuhkan fasilitas kesehatan.
Mencuatnya Kota Depok ber-UHC lagi terungkap dari salah satu Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPRD Provinsi Jawa Barat (Jabar) dari Fraksi Gerindra, Pradi Supriatna yang membeberkan adanya dukungan anggaran dari Pemerintah Provinsi Jabar untuk Kota Depok kembali berstatus UHC.
“Alhamdulilah, ada support Rp 10 miliar dari Pemprov Jabar untuk UHC di Depok. Kebetulan saya di Banggar, jadi punya andil juga disitu. Saya juga mengajak semua pihak untuk mendukung, selama itu untuk kepentingan masyarakat luas,” kata Pradi usai bertemu dengan DPD PKS Kota Depok, Jumat (27/3/2026).

Sedangkan Anggota Komisi D DPRD Kota Depok, Ade Firmansyah mengatakan, pertemuan PKS-Gerindra kali ini semakin memperkuat keyakinannya Depok akan meraih kembali predikat UHC.
“Apalagi bang Pradi sudah memastikan bantuan Pemprov Jabar yang sepuluh miliar itu, langkah UHC kembali pada Juni ini kian nyata, Alhamdulillah,” ucap Ade.

Sementara, Ketua RT 3, RW 11, Kelurahan Mekarsari, Kuncoro mendukung penuh Kota Depok yang berencana untuk mengembalikan program UHC yang sempat tidak aktif pada Januari lalu.
“Jelas kepentingan warga di atas segalanya. Prioritaskan kesehatan warga masyarakat,” kata Kuncoro singkat, Selasa (31/3/2026).
Dikesempatan yang sama, salah satu warga Kelurahan Mekarsari, Indah (45) mengharapkan agar segera dapat terealisasinya UHC yang di gadang-gadang pada bulan Juni mendatang.
“Bersyukur banget lah kalau Depok ada program UHC lagi. Jadi yang sakit gak perlu repot administrasinya, tinggal serahkan KTP Depok aja sudah dilayanin,” ucap Indah.
Indah menceritakan, ia pernah membawa anak keduanya ke salah satu rumah sakit di Depok namun terkendala pelayanan karena masuk ke dalam desil 6. Padahal ia seorang janda yang bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga (ART).
“Kemarin repot ngurusnya pas saya bawa anak nomor dua ke rumah sakit. Katanya saya masuk desil 6, jadi gak dapat yang gratis gitu. Saya sudah bilang ke rumah sakit kalau saya ini ART, pembantu, udah gak punya suami, malah di suruh urus data dulu. Repot banget,” ungkapnya.
Hal senada juga dikatakan Sutarno (65) warga Baktijaya. Ia mengatakan, jika sewaktu-waktu penyakit arthritis (radang sendi) yang di deritanya kambuh, jadi bisa menggunakan KTP untuk berobat ke rumah sakit
“Ya senang, karena kalau kaki saya gak bisa bergerak gara-gara radang sendi jadi bisa berobat pakai KTP kan. Itu membantu saya sekali yang sudah lanjut usia begini ” ucapnya.
(SK/Martchel)














