spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaDepokRidwan Tekankan Jurnalisme Berbasis Empati, Jangan Eksploitasi Kesedihan Korban...

Ridwan Tekankan Jurnalisme Berbasis Empati, Jangan Eksploitasi Kesedihan Korban Bencana

Depok – Suara Kota |

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Depok menggelar diskusi nasional yang membahas peran strategis sekaligus profesionalisme jurnalis dalam peliputan kebencanaan.

Dalam kegiatan tersebut, praktisi komunikasi dan kebencanaan, Ridwan Ewako, menjadi pemateri utama dan menekankan pentingnya jurnalisme berbasis empati serta tanggung jawab sejarah.

Ridwan menegaskan bahwa sejarah pers nasional tidak bisa dilepaskan dari perjalanan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Karena itu, wartawan tidak hanya bertugas menyampaikan informasi, tetapi juga menjaga keutuhan bangsa melalui karya jurnalistik yang bertanggung jawab.

“Kita mengemban tanggung jawab sejarah. Pers Indonesia lahir di tengah gejolak perjuangan, dan hal itu menjadi landasan etik serta praktik kita sebagai wartawan, khususnya anggota PWI,” ujar Ridwan di Kantor PWI Depok, Selasa (06/01/26)
.
Ia menyoroti tantangan besar media arus utama di tengah derasnya arus informasi media sosial yang kerap memunculkan polarisasi dan menyebarkan informasi tanpa konteks. Hal tersebut, menurutnya, bisa memicu kegaduhan bahkan menyudutkan pihak tertentu saat terjadi bencana.

“Media sosial membuat siapa saja merasa menjadi ahli. Di sinilah profesionalisme wartawan diuji untuk mengeliminasi hoaks yang berpotensi mengganggu stabilitas sosial,” tegasnya.

Ridwan juga mengkritisi tren penurunan kualitas peliputan bencana yang sering kali hanya mengejar kecepatan dan klik, tanpa memperhatikan kebenaran data dan kedalaman informasi. Selain itu, masih banyak media yang tidak menurunkan wartawan langsung ke lokasi bencana, serta minimnya kesiapan wartawan muda menghadapi situasi darurat.

Ia kemudian membandingkan dengan pola peliputan di Jepang, di mana media sangat menjaga privasi dan martabat korban. “Di Jepang, tidak ada eksploitasi kesedihan. Foto jenazah atau tangisan korban tidak diekspos berlebihan. Fokus mereka adalah memberi peringatan dini dan edukasi kepada masyarakat,” jelasnya.

Sebagai penutup, Ridwan menyampaikan tiga prinsip penting yang harus dipegang wartawan dalam peliputan kebencanaan. Pertama, Empati Sebelum Eksklusif, yaitu mengedepankan kemanusiaan dibanding ambisi mengejar berita. Kedua, Verifikasi Sebelum Viral, dengan melakukan cek ulang informasi terutama yang berasal dari media sosial.

Ketiga, Memberi Konteks dan Solusi, yaitu menyajikan berita yang tidak hanya informatif, tetapi juga memberikan pemahaman dan tawaran solusi bagi pemangku kebijakan.

“Saat bencana terjadi, wartawan dihadapkan pada pilihan: menjadi bagian dari solusi atau justru menjadi bagian dari masalah. Di situlah profesionalisme menentukan wajah bangsa,” tutupnya.

(SK/Martchel)

Berita Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini