Depok – Suara Kota |
Setelah melalui diskusi panjang yang sarat perenungan dan perdebatan, Persatuan Wartawan Kristiani (Perwani) Depok akhirnya menetapkan kepemimpinan barunya. Manahan resmi terpilih sebagai ketua dari empat nama yang diajukan peserta dalam forum pemilihan yang digelar di Cafe Wajan Tepi Danau, Cilodong, Kota Depok, Jumat (9/1/2026).
Pemilihan tersebut dihadiri 20 orang peserta yang sebelumnya juga menyepakati pembubaran panitia pelaksana Natal 2025. Suasana forum berlangsung hangat namun serius, mencerminkan kegelisahan sekaligus harapan besar akan masa depan organisasi yang ingin dibangun lebih kokoh dan bermakna.
Dalam pernyataannya usai terpilih, Manahan mengaku tidak pernah merasa benar-benar siap memikul tanggung jawab sebagai ketua. Namun, demi menjaga marwah dan keberlangsungan Persatuan Wartawan Kristiani Depok, ia menyatakan kesediaannya untuk maju dan berjuang bersama.
“Kalau ditanya siap atau tidak, jujur saya bilang tidak siap. Tapi kalau ini untuk perjuangan bersama, kita harus siap tempur. Kalau tidak diperjuangkan, organisasi ini bisa runtuh,” ujarnya dengan nada tegas namun rendah hati.
Manahan menekankan bahwa jabatan ketua bukan sekadar titel di atas kertas. Menurutnya, kepercayaan yang diberikan harus dijawab dengan kerja nyata, dukungan moral, dan kebersamaan seluruh anggota. Ia menolak keras kepemimpinan yang berjalan tanpa arah dan tanpa aktivitas yang jelas.

Sebagai langkah awal, Manahan memaparkan program yang menitikberatkan pada penguatan spiritual dan solidaritas internal. Salah satu agenda utamanya adalah menggelar kebaktian rutin setiap tiga bulan sekali secara bergilir di rumah anggota. Program ini diharapkan menjadi ruang perjumpaan rohani sekaligus sarana mempererat ikatan antar wartawan Kristiani di Depok.
Selain itu, kepengurusan ke depan juga akan diperkuat dengan pembentukan sejumlah bidang, mulai dari publikasi, kemasyarakatan, hingga bidang pendukung lainnya. Seluruh anggota diharapkan terlibat aktif sesuai kapasitas dan komitmen masing-masing.
“Lebih baik kita kecil tapi berjalan, daripada besar tapi tidak jelas arahnya,” kata Manahan.
Ia meyakini, ketika organisasi dijalankan dengan sungguh-sungguh dan menghasilkan karya nyata, maka kepercayaan akan tumbuh dengan sendirinya.
Dalam forum tersebut, Manahan juga mengingatkan pentingnya profesionalisme dan kedewasaan. Ia meminta agar seluruh keputusan yang telah disepakati dijaga bersama tanpa intrik atau pembicaraan di belakang yang justru melemahkan kepengurusan.
“Kita semua sudah dewasa. Tidak ada lagi cerita saling menjatuhkan. Kalau mau organisasi ini maju, kepercayaan adalah kuncinya,” tegasnya.
Sementara itu, sekretaris terpilih yang turut memberikan sambutan menyatakan kesiapannya mendukung kepemimpinan Manahan.
Dengan pengalaman panjang di dunia organisasi, baik nasional maupun internasional, ia optimistis kepengurusan baru mampu bekerja secara tertib, transparan, dan profesional.
Pemilihan ini juga disepakati untuk dituangkan secara administratif melalui berita acara, notulen resmi, dan dokumentasi lengkap sebagai dasar hukum organisasi, termasuk untuk keperluan pencatatan notaris. Langkah ini dinilai penting guna memperkuat legitimasi dan menghindari persoalan di kemudian hari.
Dengan terpilihnya Manahan sebagai ketua, Persatuan Wartawan Kristiani Depok menatap babak baru. Dari forum sederhana di sebuah kafe di Cilodong, lahir tekad kolektif untuk membangun organisasi yang tidak hanya hidup secara struktural, tetapi juga bertumbuh dalam iman, integritas, dan kebersamaan.
Pernyataan Sekretaris Terpilih
Sekretaris terpilih Persatuan Wartawan Kristiani Depok, Samosir, menegaskan bahwa dunia organisasi bukan hal baru baginya. Ia menyebut hingga kini masih aktif dalam organisasi berskala internasional, seperti Amnesty International, serta tergabung dalam kepengurusan inti Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI). Di organisasi kepemudaan Kristen tersebut, Samosir menjabat sebagai Sekretaris GAMKI Jakarta.
Menurut Samosir, pengalamannya berorganisasi membuatnya sempat menolak saat namanya pertama kali diusulkan dalam struktur kepengurusan. Ia mengaku tidak memiliki ambisi jabatan dan lebih mengedepankan kerja yang solid serta suasana organisasi yang sehat dan saling menghargai.
“Kita harus bisa berjalan secara dewasa dan profesional. Baik bekerja bersama maupun secara mandiri, semuanya harus selaras,” ujarnya.
Ia berharap dukungan dari seluruh anggota tidak berhenti pada proses pemilihan semata, tetapi berlanjut dalam kerja nyata selama beberapa tahun ke depan.
Dengan latar belakang organisasi yang telah ia jalani sejak masa kuliah hingga kini, Samusil optimistis dapat menjalankan amanah sebagai sekretaris, meski tetap harus membagi waktu dengan aktivitas pribadi dan profesional yang ia jalani.
(SK/Martchel)














