Depok – Suara Kota |
Gerak cepat ditunjukkan Dinas Perumahan dan Permukiman (Disrumkim) dalam merespons bencana longsor turap di TPU Kalimulya 1, Cilodong. Hanya berselang singkat dari kejadian pada 22 Maret lalu, upaya perbaikan kini mulai dikebut.
Guna memastikan perbaikan berjalan optimal, koordinasi intensif terus dilakukan bersama pihak konsultan dan kontraktor agar proyek selesai tepat waktu dan sesuai standar kualitas.
Peristiwa longsor tersebut terjadi karena curah hujan ekstrem berdurasi panjang yang mengguyur kawasan itu selama lima hingga enam jam. Hal itu menyebabkan tanah mengalami kejenuhan hingga tak mampu lagi menahan beban air.
Kepala UPTD Pemakaman Umum Disrumkim Kota Depok, Muhamad Iksan menjelaskan, faktor cuaca menjadi penyebab utama kejadian tersebut.
“Berdasarkan laporan petugas di lapangan, hujan turun sangat deras dalam durasi cukup lama. Secara teknis, kejadian ini masuk kategori force majeure atau di luar kendali manusia,” kata Iksan, Kamis (9/4/2026).
Iksan memastikan, penanganan dilakukan secara cepat dan bertanggung jawab. Apalagi, proyek penurapan di lokasi tersebut masih dalam masa jaminan pemeliharaan.
“Penyedia jasa sudah menyatakan siap merapikan dan memperbaiki area terdampak hingga tuntas. Ini bagian dari komitmen bersama untuk memulihkan kondisi di lapangan,” bebernya.
Iksan menjelaskan, hasil evaluasi teknis dari konsultan menyebutkan, seluruh tahapan pekerjaan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga pengawasan, telah sesuai standar.
Struktur turap berupa pasangan batu kali setinggi sekitar enam meter juga dinilai memenuhi kriteria desain.
Sejumlah rekomendasi teknis yang disiapkan antara lain penanganan darurat untuk menjaga aliran air tetap lancar, perancangan ulang struktur yang lebih adaptif terhadap kondisi ekstrem, hingga opsi penggunaan konstruksi dinding beton bertulang.
“Ini bukan kesalahan pihak manapun, namun kami tetap berkomitmen menghadirkan solusi terbaik agar kondisi segera pulih dan lebih aman ke depannya,” tegas Iksan.
Sementar itu, Konsultan Proyek, Ardy Mas menjelaskan, konstruksi turap dibangun di belakang turap lama yang masih dalam kondisi layak. Pemilihan material batu kali juga disesuaikan dengan kondisi lahan pemakaman yang memiliki keterbatasan.
“Hujan dengan intensitas sangat tinggi menyebabkan tanah di belakang turap menjadi jenuh (saturated). Hal ini memicu peningkatan tekanan air pori dan tekanan lateral tanah secara signifikan, sehingga menurunkan stabilitas struktur,” terang Ardy.
Ardy mengatakan, kejadian itu dikategorikan sebagai force majeure karena dipicu faktor alam dan berada di luar kendali penyedia jasa.
“Dalam kondisi normal, struktur masih memenuhi faktor keamanan. Namun, kondisi ekstrem menyebabkan perubahan parameter tanah di luar asumsi desain,” tandasnya.
(SK/Martchel)














