Depok – Suara Kota |
Penulis senior Ahmad Bahar kembali menggegerkan dunia literasi kepolisian dengan meluncurkan karya terbarunya berjudul “Rapor Merah Sang Jendral Listyo Sigit Prabowo” di Cafe Keko, Cimanggis, Depok, Rabu (11/2/2026).
Buku ini lahir bukan sekadar dari pengamatan akademik, melainkan dari sebuah dinamika panjang, hambatan birokrasi, hingga bentuk kritik tajam terhadap institusi Polri.
Dalam acara peluncuran yang berlangsung santai namun penuh muatan kritik yang dibentuk oleh pengalaman, Ahmad Bahar menceritakan bahwa diterbitkannya buku ini berawal dari rasa jengkelnya pada akhir Desember 2025. Saat itu, ia tengah menggarap buku tentang seorang Gubernur, namun prosesnya terhambat oleh birokrasi dan kesibukan narasumber.
“Nah, di tengah-tengah itu, karena daripada bulak-balik lagi ke Depok, saya coba mau nulis Kapolda sana melalui jalur formal. Artinya jalur formal itu melalui birokrasi merekalah,” ungkap Ahmad Bahar. Namun, ia justru membentur dinding keras etika birokrasi.
“Ternyata kasta dan sikap kepolisian itu tidak sesuai dengan profesi itu. Jadi Kapolda atau Kapolres atau Kapolri itu dianggap manusia dewa. Gak boleh sebenarnya apalagi orang seperti saya. Gampang ketemu, nggak boleh. Padahal saya itu ketemu sendiri itu bisa tanpa mereka. Tapi untuk sopan santun, ya kan? Kita kan mau jaga kawan juga kan? Jangan sampai aduh tiba-tiba di situ, mereka kok nggak lewat saya sih? Kan salah juga,” tambahnya.
Tradisi “Menulis Saat Jengkel” Ahmad Bahar mengaku memiliki cara unik dalam meluapkan emosi. Jika dahulu ia meluapkannya dengan tindakan fisik seperti bersih-bersih rumah, kini ia memilih jalur intelektual.
“Kalau saya sekarang jengkel, saya tulis buku Pak. Jadi gitu kira-kira,” tegasnya.
Dalam buku ini ia menegaskan bukan untuk menyerang jenderal yang masih aktif secara personal akan tetapi programnya. Tambahnya, meskipun judulnya terdengar kontroversial, Bahar menjelaskan bahwa isi buku ini lebih dalam membedah program-program Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan mengapa posisinya begitu kuat hingga bertahan lama.
“Isinya lebih ke programnya beliau. Bukan tentang Pak Listyo (personal), bukan. Tetapi tentang program Pak Listyo ini. Sebenarnya Pak Listyo ini prestasinya apa sih kok jadi Kapolri? Kok diangkat oleh Pak Jokowi dan sampai 5 tahun? Biasanya itu maksimal 2 tahun, 3 tahun,” jelas Bahar.
Menariknya, peluncuran buku ini juga dibarengi dengan peluncuran dua lagu yang diciptakan langsung oleh Bahar untuk melengkapi narasi bukunya. Ia bahkan melakukan perjalanan “gerilya” ke Pelabuhan Ratu hingga Jogja untuk memperkenalkan karya-karya ini kepada masyarakat bawah.
Menanggapi bahwa minat baca buku telah mati, Bahar justru membawa kabar optimistis dari sebuah percetakan di Jogja yang menggunakan mesin bernilai miliaran rupiah untuk terus mencetak buku dalam jumlah ratusan ribu eksemplar.
“Saya sudah tidak butuh terkenal, saya tidak butuh cari uang. Saya pengen berbagi kepada masyarakat,” tegas Bahar menutup sesi wawancara.
Buku itu kini mulai didistribusikan secara mandiri dan melalui jaringan komunitas, membawa pesan bahwa kritik terhadap kekuasaan adalah bagian dari mencintai institusi itu sendiri.
(SK/Martchel)














